BAB
II
AGAMA
ZOROASTER
A.
SEJARAH LAHIRNYA
AGAMA ZOROASTER
Sejarah kelahiran dan perkembangn agama Zoroaster tidak bisa
dipisahkan dari Kerajaan Persia. Para peneliti bersepakat bahwa agama Zoroaster
hadir di dunia kira-kira 2000-1800 SM. Pendapat ini berdasarkan zaman saat
tokoh utama agama ini (Zarathustra) hidup.[1]
Agama inipun pernah menjadi agama negara bagi tiga kerajaan
besae di Iran yang hidup dan berkembang hampir berkesinambungan sejak abad ke-6
sampai abad ke-7 M, serta banyak menguasai daerah Timur Dekat dan Tengah.[2]
Setelah Zarathustra berhasil mengembangkan ajarannya di Persia,
raja-raja Dinasti Achaemenids menjadi penganut agama Zoroaster sampai pada raja
Darius III (363-331 SM). Ketika imperium Persia ditaklukan oleh Alexander the
Great, agama Zoroaster semakin meredup, kemudian berlangsung Hellenisasi yang
intensif di seluruh wilayah Persia. Hellenisasi adalah proses perubahan
kultural yang terjadi sekitar abad ke-2 SM hingga pertengahan abad pertama
Masehi, karena dipengaruhi kebudayaan dan peradaban Yunani yang sangat dominan.
Perkembangan agama Zoroaster terbagi atas tiga tahap masa,
sebagai berikut:
1.
Masa 600-550 SM (150
tahun), merupakan masa pertumbuhan kekuasaan dan pengembangan agama Zoroaster.
2.
Masa 550-486 SM (65 tahun),
merupakan masa perluasan kekuasaan dan perluasan pengaruh agama Zoroaster.
3.
Masa 486-331 SM (156
tahun), merupakan masa peperangan yang terus menerus dengan Yunani.
Setelah itu peradaban Persia lenyap dan digantikan
oleh peradaban yunani. Selain itu, mitologi yunani yang memuja Dewa Zeus (yang
melambangkan Dewa Matahari) beserta pemujaan dewa lainnya diserap oleh
masyarakat Persia hingga agama Zoroaster yang asli dan menganut monotheisme,
digantikan aliran-aliran Mazdaism, Mithraism, dan Machaenism.
Aliran-aliran tersebut berkembang dan menjadi anutan
msyarakat pada saat pemerintahan Dinasti Sassanid. Aliran yang paling
berpengaruh adalah Mazdaism yang lambat laun dikenal dengan nama agama Majusi.
Setelah bangkit dan kemudian bercampur dengan peradaban yunani, agama Zoroaster
kembali meredup. Hal itu terjadi karena pada saat pemerintahan Dinasti Sassanid
terjadi perlawanan dari Khalifah Umar bin Khattab (634-641 M). Runtuhnya
Dinasti Sassanid menjadi perkembangan terakhir agama Zoroaster semenjak 12 abad
lamanya. Akan tetapi Zoroastrianisme tidak lenyap seluruhnya, saat ini populasi
Zoroaster di iran sekitar 25 ribu orang dan mayoritas mereka menetap di
Teheran, Kerman, dan Yazd.
B.
NABI ATAU PEMBAWA
AJARAN
Zarathustra atau Zartosht (Parsi Modern), Zerdest (Kurdi),
Zoroastres (Yunani), dan Zoroaster (Latin) adalah Nabi pencetus
Zoroastrianisme. Zarathustra dilahirkan di Azerbaijan. Ia berasal dari
keturunan suku Media karena ayahnya Porushop Spitama, ibunya bernama Dughdova.
Dalam ceritanya Dughdova belum pernah dijamah oleh Porushop, yang kemudian
melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Zarathustra. Oleh Durashan (kepala
kaum Majusi) memliki firasat bahwa anak laki-laki tersebut akan menghancurkan
agama Majusi. Pada umur 7 tahun dia sudah belajar keagamaan dan kependetaan.
Ketika umur 15 tahun ia memperoleh tanda lulus (Costi) dalam pelajaran
keagamaannya. Dilanjutkan umur 20 tahun ia dinikahnya oleh kedua orang tuanya
dengan seorang gadis bernama Havivi. Ketika umur 30 tahun ia berkhalwat di
sebuah gua di Gunung Sabalan. Di sibilah ia mendapat sebuah ayat titisan Ahura
Mazda (SBE, 31:10-11) yang berbunyi:
“This man is found for me here, who alone has hearkened to
our enunciation. (orang inilah yang-Ku jumpai di sini, yang ia seorang saja
sudah mendengarkan pemberitaan Kami)”
Setalah mendapat wahyu ia ajarkan kepada masyarakat Iran
utara, akan tetapi ia hanya mendapatkan seorang pengikut yang tak lain adalah
sepupunya Maidhyoimanha.
Pada tahun ke-12 kenabiannya, Zarathustra mengemabara ke
Timur. Awalnya menuju Seista, selanjutnya ke Bactria yang dipimpin oleh raja
yang bijaksana, Vishtaspa. Setelah 47 tahun menjadi Nabi, Zarathustra wafat
dalam usia 77 tahun. Zarathustra meninggalkan 3 istri, 3 putri dan 3 putra.
C.
KITAB SUCI
Avesta
merupakan kumpulan tek yang terkumpul dalam bentuk tulisan yang ditulis
kira-kira abad ke -6 M. Avesta menjadi kitab suci para pengikut Zoroaster.
Avesta berasal dari kata avistak yang berarti bacaan, sedangkan
pengertian lanjutan dari Avesta bermakna pengetahuan. Kitab ini ditulis dengan
huruf dan bahasa Avesta yang mengacu pada masa Iran Kuno yang memiliki akar
persamaan dengan bahasa Pahlevi dan Sansekerta. Kitab suci itu dulunya terdiri
dari 21 kitab, yang kini hanya tinggal 5 kitab, yaitu:
1.
Kitab Yasna
Kitab ini berisi kumpulan doa-doa dan
aturan-aturan ibadah. Kumpulan pujian-pujian disebut dengan Ghatas. Ghatas
terdiri dari 17 puji-pujian yang menceritakan tentang perjumpaan Zarathustra
dengan Tuhan. Sedangkan dalam kitab Yasna pujian-pujian terhimpun menjadi 72
buah haiti/pasal
2.
Kitab Vispered
Kitab ini bermakna kodrat-kodrat
terkemuka (vispe ratave), berisikan pembahasan hal ghaib yang terkemuka dan
tunduk pada Kodrat Tunggal Ahura Mazda. Selain itu berisi himpunan nyanyian
permohonan dan kebaktian. Isi dan bentuknya mirip kitab Yasna dan ini merupakan
kitab kebaktian tambahan yang terdiri atas 24 pasal.
3.
Kitab Vendidad
Kitab ini berisi tulisan-tulisan yang
berkaitan dengan ritual pemurnian atas hukum-hukum agama yang terdiri atas 22
bab dan ditambah dengan 20 bab tentang kumpulan hukum-hukum agama. Kitab ini
berpangkal terhadap doktrin yang paling pokok yaitu perang terhadap Angro
Mainyu dan seluruh kodrat-kodrat jahat.
4.
Kitab Yasht
Kitab ini berisi nyanyian keagamaan
kepada para Izad (kodrat-kodrat ghaib termulia). Kitab ini terdiri dari 21
nyanyian pujian yang merupakan kumpulan
tambahan kitab Yasna.
5.
Kitab Khorda Avesta
Kitab ini merupakan kumpulan doa
sehari-hari yang di dalamnya juga mencakup Yashts, kumpulan puji-pujian dan
puisi kepahlawanan.
Selain kelima kitab yang merupakan
bagian dari kitab Avesta, ada kitab rujukan lagi yaitu buku Pahlavi. Buku yang
dibuat semasa Dinasti Sassanid yang sejak itu pengikut Zoroaster menjadi
minoritas.
D.
SISTEM KEPERCAYAAN
1.
Konsep Ketuhanan
Penganut Zoroaster harus mengimani
Ahura Mazda dengan melakukan pengakuan keimanan yang harus diucapkan
sebagaimana berikut :
“I confess myself a worshipper of
Mazda, a follower of Zarathustra, one who hates the Deavas anda who obeys the
Law of Ahura” Saya mengaku diriku penyembah Mazda, pengikut Zarathustra
yang membenci deavas dan menaati Hukum Ahura.
Di dalam kebaktian sehari-hari,
setiap orang yang beriman harus menegaskan kepercayaan bahwa ajaran Zarathustra
itu melebihi agama-agama lainnya. Dengan demikian keimanan paling pokok agama Zoroaster
adalah pengakuan terhadap Ahura Mazds, dialah yang menciptakan alam semesta dan
menciptakan kodrat-kodrat rohani yang terbagi menjadi dua golongan yaitu
a.
Keyakinan terhadap Spenta
Mainyu
Spenta Mainyu menempati kedudukan
yang tertinggi dan termulia, antara lain:
1)
Vohu Manah, roh yang
memiliki jiwa berbudi dan mati di surga. Vohu Manah mengharuskan
penganut Zoroaster mengorbankan binatang untuknya. Saat ini, umat Zoroaster
mempersembahkan susu dan mentega dalam ritual.
2)
Kshatra Vairya, roh
yang maha mulia dan pejuang kerajaan yang membela orang miskin, disebut juga
Kebaikan Dominion Ahura Mazda.
3)
Asha Vahista, kodrat
pembela perintah-perintah dan memerangi iblis.
4)
Armaity, penyokong
kebijaksanaan di bumi.
5)
Haurvatat, kodrat
yang membawa kemakmuran, kemurnian dan kesehatan.
6)
Ameretat, kodrat
yang memberikan kehidupan kekal, umur panjang. Ameretat dan haurvatat hampir
selalu berdampingan.
b.
Keyakinan terhadap Angro
Mainyu
Para pengikut Angro Mainyu disebut
dengan Deavas. angro Mainyu bermakna kodrat yang jahat atau bruruk.
2.
Konsep Penciptaan
Alam semesta diyakini telah berusia 12.000 tahun. Konsep Alam
berdasarkan urutan terciptanya :
1)
Langit ( pertahanan )
2)
Air ( menghantam dusta dan
dahaga )
3)
Bumi ( tanah )
4)
Hewan ( berkah )
5)
Api
6)
Angin
7)
Tumbuh-tumbuhan
3.
Konsep Manusia
Dalam Agama Zarathustra manusia baik
jasad maupun Rohnya, manusia juga memiliki peran di dunia yaitu bekerja sama
dengan alam, serta menjalankannya dengan amal shaleh, akal pikiran, perkataan
dan perbuatan yang baik. Manusia pertama kali di ciptakan Aliran Mazda yang
bernama Yima. Dalam konsep manusia disini jalan keselamatan satu-satunya bagi
manusia adalah mengikuti jalan Ahura Mazda: “seseorang yang beriman itu serba
tahu dan serba asih, seperti engkau, O Mazda” (Yasna, 43:3).
4.
Konsep Etika Hidup
Sebagian ajaran Zoroaster adalah
mengenai etika hidup. Dasar pikiran teologis agama ini berintikan pada
pandangan moralistik tentang kehidupan.. dalam agama Zoroaster moralitas
diungkapkan dalam tiga kata yaitu pikiran baik (humat), perkataan baik (huklit)
dan perbuatan baik (huvarsht). Dalam agama ini membebaskan para pengikutnya
untuk memilih hidup yang bai atau jahat bagi dirinya sendiri. Menurut mereka
dunia yang akan datang akan mengalami pembaharuan. Mereka menyakini bahwa tidak
ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Selain itu, penganut agama Zoroaster
diwajibkan melakukan beberapa hal yang harus dilaksanakan pada hari-hari yang
berlainan setiap bulannya, seperti minum anggur, pakai baju-baju baru, pergi ke
kuil api dan lain-lain.
5.
Konsep Eskatologi
(Kehidupan setelah kematian)
1)
Pengadilan saat kematian
Setiap roh manusia setelah
meninggalkan kehidupan dunia bergentanyangan selama tiga hari di dekat jasadnya.
Lalu, setelah hari keempat, roh menghadapi pengadilan di atas jembatan pembalas
atau jembatan cinvat (jembatan yang menuju ke surga). Jembatan ini dijaga oleh
Dewa Rashuyang menimbang baik-buruknya perbuatan manusia. Jika perbuatan
baiknya lebih berat dari pada perbuatan buruknya maka ia langsung masuk surga,
apabila perbuatan burunya lebih berat dar pada perbuatan baiknya maka masuk
neraka, apabila perbuatan baik dan buruknya seimbang maka ia dimasukkan ke
Hamestagan (tempat campuran). Neraka bukan merupakan tempat penyiksaan abadi,
melainkan bersifat sementara dan akhirnya semua akan masuk surga.
2)
Hari kebangkitan
Hari kebangkitan adalah hari dimana
manusia dibangkitkan dari neraka dan seluruh umat manusia tanpa kecuali
berkumpul dalam surga tempat mereka semua akan memuji Tuhan selamanya. Konsep
surga menurut agama Zoroaster adalah suatu keadaan yang kembali kepada
kehidupan dunia sebelum Angro Mainyu menentangnya. Dan surga diibaratkan hanya
sebagai tempat reuni keluarga manusia berkumpul dalam suatu kehidupan abadi dan
kenikmatan yang abadi pula..
3)
Konsep tentang api
Api adalah unsur yang sangat penting
dalam kehidupan. Pengikut agama Zoroaster menyalakan api suci di tungku-tungku
ynag terdapat di setiap kuil peribadatan, tungku itu dijaga oleh pemimpin agama
(magi), rohaniwan muda serta pendeta kuil. Setiap hari harus memasukkan kayu
cendana ke dalam tungku api sebanyak 5 kali, menaburkan wangi-wangian dan
lain-lain.
E.
SEKTE-SEKTE DALAM
AGAMA ZOROASTER
1.
Kelompok Shenshahi, yang
merayakan Tahun Baru pada musim gugur, yaitu sekitar bulan agustus atau
september.
2.
Kelompok Qadimi, yang
merayakan Tahun Baru pada musim panas, yaitu sekitar bulan juli atau agustus.
3.
Kelompok Fasli, yang
merayakan Tahun Baru pada musim semi, yaitu setiap tanggal 21 maret.
F.
PRAKTIK KEAGAMAAN
AGAMA ZOROASTER
1. Cara bersuci dan beribadah (Shalat)
Sebelum sembahyang harus memPersiapkan
diri dengan mencuci wajah, tangan dan kaki dari kotoran debu kemudian menutup
sebagian muka. Kemudian melepaskan tai kawat suci dan berdiri dengan tali
dipegang dengan kedua tangan di mukanya, tegak lurus di hadapan penciptanya,
matanya menatap api. Selanjutnya berdoa kepada Tuhan Ahura Mazda sambil
memukul-mukulkan ujung kawat dengan penghinaan kepada Angro Mainyu.
Pelaksanaaan ibadah tiga kali sehari
dan ditambah dua ibadah tambahan. Waktu pelaksanaan orang Persia Kuno ialah
ketika matahari terbit, tengah hari, dan matahari terbenam.
2. Ritual naojote
Ritual yang dijalani oleh anak-anak
yang berusia antara tujuh hingga sepuluh tahun. Kata Naojote berasal dari kata
Nao yang artinya baru dan Jote atau Zote yang artinya mempersembahkan doa-doa.
3.
Upacara pernikahan
Batas minimal laki-laki dan wanita
diperbolehkan menikah adalah umur 15 tahun. Berikut ritual-ritual dalam agama Zoroaster:
a.
Adravvun (Nam Padvun),
kunjungan pertama calon pasangan, pihak laki-laki memberikan koin perak sebagai
pertanda adanya pertunangan.
b.
Divo, dua lampu menyala di
masing-masing rumah mempelai yang akan menikah, setelah itu melakukan tkar
cincin.
c.
Adarni, hari ketiga sebelum
pernikahan ada pertukaran hadiah
d.
Pernikahan berlangsung.
4.
Ritual kematian
Jasad manusia yang mati tidak dikubur
atau dikremasi. Adapun tahap-tahapnya sebagai berikut:
a.
Mayat dibiarkan 3 hari
dalam rumah sebelum dibawa ke Tower of Silnece.
b.
Di Tower of Silence mayat
akan ditelanjangi dan ditidurkan di atas menara yang terbuka dan dibiarkan
dimakan oleh burung pemakan bangkai.
c.
Selanjutnya sisa-sisa
tulang dibuang ke dalam sumur atau terowongan yang terdapat dalam kuil.
5.
Kalender keagamaan
Kalender agama Zoroaster dibagi
menjadi 3 yaitu Fasli, Shenshahi dan Qadimi. Ulang tahun Zoroaster (Khordad
Sal), akan tetapi kelahiran nabi agama ini tidak bisa diidentifikasikan secara
akurat maka tidak ada tanggal yang pasti. Ada beberapa pesta wajib, yaitu:
a.
Maidyozarem (pesta
pertengahan musim semi)
b.
Maidyoshahem (pesta
pertengahan musim panas)
c.
Paitishahem (pesta membawa
panen)
d.
Ayathrem (membawa pulang
ternak)
e.
Maidyarem (pesta musim
dingin)
f.
Hamaspathmaidyem (pesta
seluruh jiwa)
Tahun baru agama (Norus) Zoroaster
terjadi pada musim semi.
G.
Tempat Suci dan
Ibadah
1.
Kota Yazd (kota Iran
Tengah)
2.
Gunung Ushi-darena
(Azerbaijan, dekat Danau Chaechasta, yang dikenal Urumiah)
3.
Gunung Har-Berezaiti
(gunung Alborz, Iran Utara)
4.
Museum Zoroastrian Kerman

